Launching D-IV Keperawatan Anastesiologi

Launching D-IV Keperawatan Anastesiologi

Bali sangat berbangga memiliki Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ( Stikes) Bali . Kini Stikes Bali membuka program baru yang langka dan satu-satunya di Indonesia.

Program baru itu adalah Prodi D-IV Keperawatan Anastesiologi. Program ini dilaunching Stikes Bali, Selasa ( 6/12) kemarin ditandai dengan penyerahan SK Kemenristek Dikti no. 448/KPT/2016 oleh Ketua YP3LPK Bali, Drs. Ida Bagus Arka kepada Ketua Stikes Bali, Drs. I Ketut Widia,BN.Stud.,M.M.

Acara ini dihadiri Ketua Umum IPAI, Dr. Dorce Tandung,M.Si., juga diisi dengan sosialiasi prodi D-IV Keperawatan Anastasiologi kepada para siswa , OSIS dan kepala sekolah se- Bali serta lembaga pendidikan tinggi kesehatan se- Indonesia.

Ketua Stikes Bali Ketut Widia mengatakan program ini akan laris di masyarakat dan mulai dibuka 2017-2018 dengan jumlah terbatas. Dikatakan demikian karena tenaga penata anastesi lulusan D-IV Keperawatan Anastesiologi sangat terbatas. Menurut IPAI pada tahun 2015 terdapat hanya 3.199 penata anastesi dengan latar belakang D-III dan pelatihan anastesi yang tersebar di berbagai rumah sakit di Indonesia dari kebutuhan 21.426 di tahun 2014. Ini berarti di tahun 2014 saja kita kekurangan penata anastesi 18.227 orang. Kebutuhan ini dipastikan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut UU Kesehatan, penata anastesi termasuk tenega keteknisian medis dengan ruang lingkup kerja menjalankan pelayanan asuhan keperawatan anastesi dengan wewenang tindakan praanestesi, intraanastesi dan pascaanastesi. Mereka juga menangangi kasus kegawatdaruratan seperti korban bencana dan bantuan sosial lainnya.

Ketua YP3LPK Bali, Drs. Ida Bagus Arkamengungkapkan rasa bangganya menjadi PTS pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memiliki Prodi D-IV Keperawatan Anastesiologi. Sebelumnya Stikes Bali memiliki Prodi S-1 Ners Keperawatan, D-III Keperawatan dan, D-III Kebidanan.

Dia mengatakan pengembangan D-IV Keperawatan Anastesiologi Stikes Bali bekerjasama dengan IPAI ( Ikatan Penata Anastesi Indonesia), Perhimpunan Dokter Spesialis Anastesiaologi dan terapi Intensif Indonesia ( Perdatin) didukung pemerintah daerah serta Kopertis. Makanya dia menyebut program ini akan laris karena bisa memenuhi SDM anastesia yang langka di Bali, nasional dan internasional.

Koordinator Kopertis VIII, Prof. I Nengah Dasi Astawa membenarkan untuk memenuhi kebutuhan SDM keperawatan anastesia untuk Bali saja masih kekurangan, apalagi untuk nasional. Sedangkan lulusannya bergelar sarjana sain terapan bisa melanjutkan ke S-2 program anastesia.

Bagi dia, turunnya Prodi D-IV Keperawatan Anastesiologi bagi Stikes Bali bisa dijadikan momentum makin bertambahnya pendidikan vokasi di Bali. Sebab di Indonesia , didominasi PT yang membuka ilmu akademik mencapai 4.400 lebih sedangkan pendidikan vokasi sangat terbatas.

Dia mendorong PTS di Bali berlomba membuka prodi vokasi. Khusus untuk kompetensi perawat anastesia diperlukan untuk memberi pelayanan dan mendampingi dokter spesialis anastesia. Dia berpesan jangan terlalu banyak menerima mahasiswa alias taat asas dan segera ajukan akreditasi.